Kejadian di Bis Kota
Pagi itu, aku melangkahkan kaki menyusuri jalan yang lumayan jauh dari rumah ke jalan raya.
Dan disana lah aku biasa menunggu bis jika hendak pergi kuliah.Bis jurusan yang ku cari pun telah datang dan segera kulambaikan tanganku. Begitu bis berhenti segera saja kunaiki.
Oowh..rupanya bis besar yang kunaiki itu masih kosong. Mungkin karena bis itu baru keluar dari sarangnya..(hehe, emangnya burung?!)
Dalam bis itu hanya ada supir,kondektur dan aku sendri yang duduk jauh dari mereka.. Aku betul-betul sendri tanpa ada teman yang bisa ku ajak bicara.
Tapi, ternyata hal itu tak berlangsung lama. Sebab, seorang wanita tua menghentikan bis itu.. Wajahnya sayuh, namun terlihat indah dengan kerudung berwarna krim yang ia kenakan. Tidak tau mau kemana, yang jelas aku pun mensyukuri keberadaannya.
"Assalamu'alaikum.." sapaku ketika ia lewat .
Dia sejenak menjawab salamku, lalu dia lebih memilih duduk diseberang pintu tanpa merasa perlu mengajakku bicara.
"Hmm... Mungkin tujuannya tak begitu jauh dari sini, sehingga ia duduk tak jauh dari mulut pintu bis". Fikirku menerka.
Akhirnya ku tetapkan untuk melihat-lihat pemandangan diluar bis saja. Terdengar suara meraung-raung dari arah belakang bis, yang tak lain mobil hitam pekat lengkap dengan sirinenya.
"Hah.. Mobil jenazah sepagi ini sudah bekerja? Tanyaku dalam hati.
Mobil itu diiringi dengan mobil lainnya yang mengantarkannya. Sudah bisa ditebak akan kemana mobil itu terparkir. Kuburan. HmM.. Serem juga kalau membayangkannya, ribuan orang dikubur disana. Mengingatnya.. Seperti melihat ada tulisan terpampang lebar: "Hiduplah di duniamu, tapi ingat tempat kembalimu adalah kuburan".
Masih asyik dengan fikiranku sendri, tiba2 tanpa kuduga, sopir menginjak kendali rem secara mendadak.
"Oii... anak siapo itu?! Nyebrang jalan dak jingok-jingok!" Semburan sopir dengan nada tinggi kepada anak yang berlari begitu saja.
Perhatianku segera kuarahkan pada dahiku. Gara-gara hal itu, sampai membuat badanku maju kedepan & membuat kepalaku benjol tersantuk sandaran kursi yang ada didepanku.
Huft..alhmdulillah,untung saja badanku kecil, jadi masih bisa jaga keseimbangan. Namun, aku juga sempat kesal kepada sopirnya.
"Jalanin bisnya gak pakek ngebut-ngebutan segala kenapa sih..? Nyawa orang cuma satu nih...! Mau tanggung jawab?!". Kataku.
"Iya. Maaf dek.." Jawab Pak sopir dengan entengnya.
Namun..... Nenek itu..!
Keadaannya benar2 memperihatinkan. Aku terkejut melihatnya. Dia terpelanting jatuh ditangga pintu masuk,untung saja pintu bis tertutup ketika berhenti.
Rupanya darah nenek itu bercucuran dari tangannya yang tergores besi yang ada dibawah pintu. Aku terkejut & terperangah..
Benar2 tak menyangka keadaannya sebegitu parah! Belum selesai keterkejutanku,aku di buat lebih terkejut lagi mendengar ucapan pertama yang mengalir dari lisan nenek itu saat menyadari tangannya terluka. Dengan terlihat tanpa menahan perih,dia berkata:
"Alhamdulillah... Terimakasih ya Allah atas karunia & pemberianMu yang tak ada habis-habisnya".
Subhanallah.. Aku terkesima beberapa saat lamanya hingga akhirnya ketika dia mulai bisa bangun, aku segera membantu berusaha memapah dan menanyakan keadaannya.
Dia menjawab:
"Alhamdulillah, tidak apa2 kok nak.. Allah begitu baik & selalu memberi kita yang terbaik."
Aku semakin kagum mendengar jawabannya. Betapa mulia hati nenek ini. Yang bahkan kala di timpa kemalangan dan musibah, dia tidak hanya sekedar bersabar, tapi mampu menerima dan mensyukurinya...
Pagi itu, aku melangkahkan kaki menyusuri jalan yang lumayan jauh dari rumah ke jalan raya.
Dan disana lah aku biasa menunggu bis jika hendak pergi kuliah.Bis jurusan yang ku cari pun telah datang dan segera kulambaikan tanganku. Begitu bis berhenti segera saja kunaiki.
Oowh..rupanya bis besar yang kunaiki itu masih kosong. Mungkin karena bis itu baru keluar dari sarangnya..(hehe, emangnya burung?!)
Dalam bis itu hanya ada supir,kondektur dan aku sendri yang duduk jauh dari mereka.. Aku betul-betul sendri tanpa ada teman yang bisa ku ajak bicara.
Tapi, ternyata hal itu tak berlangsung lama. Sebab, seorang wanita tua menghentikan bis itu.. Wajahnya sayuh, namun terlihat indah dengan kerudung berwarna krim yang ia kenakan. Tidak tau mau kemana, yang jelas aku pun mensyukuri keberadaannya.
"Assalamu'alaikum.." sapaku ketika ia lewat .
Dia sejenak menjawab salamku, lalu dia lebih memilih duduk diseberang pintu tanpa merasa perlu mengajakku bicara.
"Hmm... Mungkin tujuannya tak begitu jauh dari sini, sehingga ia duduk tak jauh dari mulut pintu bis". Fikirku menerka.
Akhirnya ku tetapkan untuk melihat-lihat pemandangan diluar bis saja. Terdengar suara meraung-raung dari arah belakang bis, yang tak lain mobil hitam pekat lengkap dengan sirinenya.
"Hah.. Mobil jenazah sepagi ini sudah bekerja? Tanyaku dalam hati.
Mobil itu diiringi dengan mobil lainnya yang mengantarkannya. Sudah bisa ditebak akan kemana mobil itu terparkir. Kuburan. HmM.. Serem juga kalau membayangkannya, ribuan orang dikubur disana. Mengingatnya.. Seperti melihat ada tulisan terpampang lebar: "Hiduplah di duniamu, tapi ingat tempat kembalimu adalah kuburan".
Masih asyik dengan fikiranku sendri, tiba2 tanpa kuduga, sopir menginjak kendali rem secara mendadak.
"Oii... anak siapo itu?! Nyebrang jalan dak jingok-jingok!" Semburan sopir dengan nada tinggi kepada anak yang berlari begitu saja.
Perhatianku segera kuarahkan pada dahiku. Gara-gara hal itu, sampai membuat badanku maju kedepan & membuat kepalaku benjol tersantuk sandaran kursi yang ada didepanku.
Huft..alhmdulillah,untung saja badanku kecil, jadi masih bisa jaga keseimbangan. Namun, aku juga sempat kesal kepada sopirnya.
"Jalanin bisnya gak pakek ngebut-ngebutan segala kenapa sih..? Nyawa orang cuma satu nih...! Mau tanggung jawab?!". Kataku.
"Iya. Maaf dek.." Jawab Pak sopir dengan entengnya.
Namun..... Nenek itu..!
Keadaannya benar2 memperihatinkan. Aku terkejut melihatnya. Dia terpelanting jatuh ditangga pintu masuk,untung saja pintu bis tertutup ketika berhenti.
Rupanya darah nenek itu bercucuran dari tangannya yang tergores besi yang ada dibawah pintu. Aku terkejut & terperangah..
Benar2 tak menyangka keadaannya sebegitu parah! Belum selesai keterkejutanku,aku di buat lebih terkejut lagi mendengar ucapan pertama yang mengalir dari lisan nenek itu saat menyadari tangannya terluka. Dengan terlihat tanpa menahan perih,dia berkata:
"Alhamdulillah... Terimakasih ya Allah atas karunia & pemberianMu yang tak ada habis-habisnya".
Subhanallah.. Aku terkesima beberapa saat lamanya hingga akhirnya ketika dia mulai bisa bangun, aku segera membantu berusaha memapah dan menanyakan keadaannya.
Dia menjawab:
"Alhamdulillah, tidak apa2 kok nak.. Allah begitu baik & selalu memberi kita yang terbaik."
Aku semakin kagum mendengar jawabannya. Betapa mulia hati nenek ini. Yang bahkan kala di timpa kemalangan dan musibah, dia tidak hanya sekedar bersabar, tapi mampu menerima dan mensyukurinya...
